Rabu, 18 November 2009

OSI Layer

1 Physical layer Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi

jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan

(seperti halnya Ethernet atau Token Ring), topologi jaringan dan

pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network

Interface Card (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.
Contoh : Repeater
cara kerja repeater : Mengulangi kembali pancaran, dengan maksud

memperkuat kembali pancaran yang diterima sehingga lebih kuat dan dapat

mencapai jarak yang lebih jauh.
( memperluas jangkauan )


2 Data-link layer Befungsi untuk menentukan bagaimana

bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebut sebagai frame.

Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control,

pengalamatan perangkat keras (seperti halnya Media Access Control Address

(MAC Address)), dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan

seperti hub, bridge, repeater, dan switch layer 2 beroperasi. Spesifikasi

IEEE 802, membagi level ini menjadi dua level anak, yaitu lapisan Logical

Link Control (LLC) dan lapisan Media Access Control (MAC).
Contoh : Switch
cara kerja switch :Switch dapat dikatakan sebagai multi-port bridge

karena mempunyai collision domain dan broadcast domain tersendiri,

dapat mengatur lalu lintas paket yang melalui switch jaringan. Cara

menghubungkan komputer ke switch sangat mirip dengan cara menghubungkan

komputer atau router ke hub. Switch dapat digunakan langsung untuk

menggantikan hub yang sudah terpasang pada jaringan.


3 Network layer Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP,

membuat header untuk paket-paket, dan kemudian melakukan routing melalui

internetworking dengan menggunakan router dan switch layer-3.
Contoh : Bridge
Cara kerja Bridge : Bridge menerima packet dari satu host yang

dialamatkan kehost pada sisi yang lain, bridge melewatkan frame date

melalui koneksi tersebut. Jika bridge mendeteksi traffic yang

dialamatkan ke segmen aslinya, ia tidak mengijinkan ia untuk lewat.

Dengan cara ini bridge melakukan fungsi filtering yang mengurangi

keseluruhan network traffic.
Tetapi meskipun bridge dapat mempelajari MAC address dari station pada

network, ia tidak dapat menentukan jalur yang paling efisien untuk

mengirimkan data. Tugas ini membutuhkan sebuah hardware lain aitu

sebuah router.
Bridge mampu untuk menghubungkan LAN yang menggunakan physical dan

MAC-layer protokol yang berbeda, seperti Ethernet dengan Token Ring.


4 Transport layer Berfungsi untuk memecah data ke dalam

paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut

sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain

itu, pada level ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengan

sukses (acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadp paket-paket

yang hilang di tengah jalan.
Contoh : Brouter

5 Session layer Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi

dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan. Selain itu, di level ini juga

dilakukan resolusi nama.
Contoh : Gateaway

6 Presentation layer Berfungsi untuk mentranslasikan data yang

hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat

ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam level ini

adalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layanan

Workstation (dalam Windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual

Network Computing (VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP)).
Contoh : Redirector

7 Application layer Berfungsi sebagai antarmuka dengan

aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi

dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan.

Protokol yang berada dalam lapisan ini adalah HTTP, FTP, SMTP, dan NFS.
Contoh : Gateaway

Rabu, 29 Juli 2009

Cara memproteksi Flashdisk

  1. Membuat partisi Flashdisk jadi 2 bagian atau lebih.
  • Memiliki Flashdisk berkapasitas besar (diatas 1 GB) disarankan membuat partisi lebih dari satu. Ini untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan fatal baik disebabkan oleh virus atau penyebab lainnya, kita masih bisa menyelamatkan data disalah satu partisi seandainya jalan terakhir ‘memformat’ flashdisk harus dilakukan. Dalam membuat partisi format dengan NTFS (support windows 2000/2003/XP) bukan FAT32.
  • Buat satu bagian yang aman (kita harus memasukkan password untuk dapat mengakses bagian flashdisk yang aman –secure-), dan 1 bagian lagi yang bisa diakses umum. Jika kita menggunakan Windows XP Pro (bukan home edition) dan format winnya NTFS kita dapat membuat password pada sebuah folder dengan langkah-langkah sbb:
    Control panel >> Folder Options >> View >> Lihat checkbox bawah sendiri >> hilangkan tanda centang >> OK. Kemudian, Klik kanan folder yang mau di proteksi >> Properties >> Security >> beri tanda cek semua pada kolom deny. >> OK. Folder yang bersangkutan akan berubah menjadi 0 byte.
2. Menggunakan tool/aplikasi untuk memproteksi USB Flashdisk.

Ada banyak sekali tool yang berfungsi untuk melindungi folder maupun file yang ada dalam storage device seperti:
  • File Protektor
  • Folder Guard
  • Folder Lock
  • Mysecretfolder
  • Usbdiskguard
  • Carryit
  • Easy file Pro
  • Dll
Dari semua tool tersebut pada dasarnya mempunyai fungsi yang sama yaitu memproteksi folder atau file dengan password sehingga orang lain tidak bisa mengakses folder tersebut atau virus tidak bisa menginfeksi folder atau file yang bersangkutan.
3. Meng’kompres’ data maupun Meng’enskripsi’ data
Biasanya setiap USB Flashdisk selalu disertai CD driver bawaannya, biasanya pula dalam CD driver tersebut ada tool untuk “Compression Support” maupun “Encription Support”. Namun jika kita tidak mendapatkan tool yang dimaksud kita dapat menggunakan tool lain seperti WinRar untuk melakukan kompresi dan memberikan password pada data yang dikompresi tersebut.